Tanker Tertahan di Hormuz, Pertamina Gerak Cepat Amankan Pasokan Minyak RI Jumat, 03/04/2026 | 20:52
Foto: ist
JAKARTA,Riaueksis.com – PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan energi nasional tetap aman meski kapal supertanker Pertamina Pride belum bisa melintasi Selat Hormuz. Perusahaan pelat merah itu langsung bergerak cepat dengan menyiapkan pasokan minyak pengganti agar operasional kilang dalam negeri tidak terganggu. Kapal raksasa yang mengangkut hampir 2 juta barel minyak mentah tersebut hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum dapat melanjutkan perjalanan menuju Indonesia sesuai jadwal. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pihaknya terus memantau pergerakan kapal sekaligus berkoordinasi dengan otoritas terkait di tengah dinamika geopolitik kawasan. “Pertamina memastikan kebutuhan operasional kilang tetap terpenuhi. Kami telah menyiapkan alternatif pasokan melalui pengelolaan portofolio suplai dari berbagai sumber,” ujar Baron, Kamis (2/4/2026). Suplai Aman, Kilang Tetap Beroperasi Langkah cepat tersebut diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Pertamina mengandalkan fleksibilitas rantai pasok global guna mengantisipasi hambatan distribusi, termasuk keterlambatan pengiriman dari Timur Tengah. Dengan strategi ini, operasional kilang tetap berjalan normal meski pengiriman utama mengalami penundaan. Tanker Masih Berlabuh di Arab Saudi Berdasarkan data pelacakan kapal hingga Rabu (1/4/2026), Pertamina Pride masih berada di perairan Arab Saudi, tepatnya dekat pelabuhan Ras Tanura. Kapal jenis very large crude carrier (VLCC) berbendera Singapura ini diketahui membawa sekitar 249.821 metrik ton minyak mentah atau setara 1,8 hingga 1,9 juta barel dalam kondisi penuh (laden). Sebelumnya, kapal tersebut sempat melakukan aktivitas di Iran sebelum kembali ke Ras Tanura dan dijadwalkan tiba di Cilacap pada 2 April 2026. Namun hingga kini, kapal masih tertahan di kawasan Teluk Persia. Bukan Satu-satunya Kapal Selain Pertamina Pride, satu tanker lain milik Pertamina International Shipping (PIS), yakni Gamsunoro, juga dilaporkan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kapal ini tengah berlayar dari Irak menuju Uni Emirat Arab untuk melayani pihak ketiga. Sementara itu, dua kapal lainnya—PIS Paragon dan PIS Rinjani—telah berhasil keluar dari wilayah konflik dan kini kembali beroperasi normal. Koordinasi Intensif di Tengah Ketegangan Pertamina melalui anak usahanya, PIS, bersama Kementerian Luar Negeri terus melakukan pembahasan teknis guna memastikan keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia yang kerap terdampak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Saat ini, PIS mengoperasikan total 345 kapal untuk mendukung distribusi energi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar global.***